Jumat, 02 April 2010

PEDOMAN GIZI

PEDOMAN GIZI

Terapi Obat Tak Membantu Diabetesi

Penyakit diabetes jelas meningkatkan risiko terkena salah satu dari berbagai gangguan kardiovaskular, termasuk serangan jantung, hipertensi, atau stroke. Untuk mengurangi risiko jantung, biasanya dokter akan memberikan obat untuk mengembalikan kadar abnormal lemak darah.

Sayangnya, studi terbaru menunjukkan terapi obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah dan menurunkan gula darah tidak banyak membantu mencegah penyakit kardiovaskular. Malah, terapi obat pada beberapa kasus menimbulkan efek samping.

Satu dekade lalu, pejabat kesehatan di Amerika Serikat melakukan tiga penelitian untuk melihat apakah tiga jenis terapi yang intensif untuk menurunkan gula darah, tekanan darah atau lemak darah efektif untuk mencegah serangan jantung dan stroke pada penderita diabetes (diabetesi).

Satu penelitian tentang gula darah dihentikan dua tahun lalu ketika para peneliti melihat terapi pengendalian gula darah tidak banyak berpengaruh. Namun begitu, dua penelitian masih berlangsung.

Pada penelitian tentang lemak darah (trigliserida) yang dilakukan para peneliti dari Columbia University dan melibatkan 5.500 diabetesi yang juga memiliki faktor risiko penyakit jantung lain, yakni hipertensi dan kolesterol yang tinggi.

Seluruh responden mendapat statin, penurun kolesterol. Separuh responden mendapat obat penurun trigliserida dan sisanya obat dummy. Lima tahun kemudian diketahui seluruh kelompok responden memiliki angka kejadian serangan jantung dan stroke yang sama. Ini berarti, terapi obat tidak banyak membantu.

Dari hasil penelitian, terbukti terapi yang insentif lewat obat-oatan tidak mampu mengurangi angka kejadian serangan jantung, meski bisa mencegah stroke. Kendati demikian, para ahli tidak menyarankan para diabetesi untuk berhenti minum obat tanpa berkonsultasi kepada dokter.

Lalu apa yang harus dilakukan para diabetesi? Tetap fokus pada pola makan dan gaya hidup yang sehat dan tetap mencoba obat yang direkomendasikan dokter untuk mengurangi risiko penyakit. Demikian menurut Dr.Clyde Yancy, kardiolog dan presiden American Heart Association.

Bagi penderita diabetes, disarankan untuk makan makanan yang bervariasi agar tercapai keseimbangan antara karbohidrat, protein dan lemak. Sebagian diabetesi bisa mengendalikan gula darahnya hanya dengan makan tiga kali sehari dan menghindari makanan manis. Sementara sisanya perlu diet ketat.

Untuk mengurangi risiko penyakit jantung, lakukan olahraga karena akan meningkatkan aliran darah melalui pembuluh-pembuluh darah kecil dan meningkatkan efisiensi daya pompa jantung.

Telur, Makanan Anti-Obesitas dan Penangkal Kanker

Telur seharusnya dipertimbangkan menjadi "makanan super". Selain meningkatkan kebugaran dan kesehatan, telur juga dapat mencegah seseorang terkena obesitas.

Pakar nutrisi mengungkapkan, telur merupakan satu dari sekian banyak makanan yang mengandung nutrisi lengkap dan sangat direkomendasikan untuk dikonsumsi setiap hari guna mendapatkan manfaat maksimal.

Sebelumnya, riset yang dipublikasikan Jurnal Nutrition and Food Science pada Juni mendatang ini menganalisa 71 laporan riset dan dokumen referensi yang membahas tentang nutrisi yang terkandung dalam telur dan pengaruhnya terhadap diet.

Usai mengumpulkan data-data yang diperlukan, peneliti kemudian menemukan fakta bahwa telur mengandung protein tinggi dan rendah kalori. Tak hanya itu, telur juga mengandung banyak nutrien esensial yang baik untuk kesehatan, misalnya saja, vitamin D, vitamin B12, Selenium dan Choline.

Lantaran mengandung protein kadar tinggi, secara otomatis telur mengandung asam amino esential yang berguna bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Kadar antioksidan di dalamnya, turut membantu mencegah terjadinya kebutaan.

Dr Carrie Ruxton, pakar nutrisi independen mengatakan manfaat kesehatan yang diperoleh ketika mengkonsumsi telur sangat luar biasa. Sudah sepantasnya telur dimasukan dalam kategori "makanan super".

"Telur tidak hanya rendah kalori tetapi dibekali dengan nutrien esensial yang bagus untuk kesehatan. Telur merupakan makanan ideal untuk setiap jenjang usia, sama halnya dengan mudahnya telur untuk dimasak dan dinikmati," tegasnya seperti dikutip dari dailymail.co.uk, akhir pekan lalu.

Hasil analisa juga mengungkapkan bahwa mengkonsumsi telur sangat bermanfaat bagi remaja, penggemar daging dan individu yang tidak suka susu. Ini karena telur merupakan sumber vitamin D dan telur secara signifikan memenuhi kebutuhan tubuh akan vitamin D. Seperti diketahui,kekurangan vitamin D beresiko mengalami gangguan kesehatan pada tulang, kanker, jantung, sklerosis, kelainan daya tahan tubuh dan gangguan mental.

Telur secara signifkikan juga membantu individu menjalani diet dan menurunkan berat badan."Begitu banyak manfaat yang diperoleh dari telur saat dikonsumsi. "Terdapat bukti kuat yang menunjukan telur dapat memberikan rasa kenyang, kontrol berat badan, dan kesehatan mata," ungkapnya.

"Dengan minimnya konsumsi telur, sebagian besar individu seharusnya mendapatkan manfaat yang besar," tambahnya.

Hasil riset terakhir menyebutkan, mengkonsumsi telur satu atau dua buah perhari tidak berpengaruh terhadap kolesterol bagi sebagian individu. Fakta lain juga mencatat, pada tahun 1979, PM Inggris saat itu Margareth Thatcher berhasil menurunkan berat badan dengan mengkonsumsi telur 28 buah perminggu.

Kurang Iodium, IQ Anak Jongkok

Walau diperlukan dalam jumlah sedikit, manfaat iodium cukup penting bagi perkembangan inteligensia anak. Tak hanya itu, iodium juga berguna untuk mengurangi kemungkinan kematian pada bayi.

Beberapa tahun lalu, iklan tentang garam beriodium pernah gencar diputar di televisi. Iklan tersebut tidak menitikberatkan pada garamnya, tetapi lebih ke kandungan iodiumnya. Garam menjadi bahan yang mudah diperkaya dengan iodium karena murah dan digunakan dalam masakan sehari-hari. Dengan begitu, iodium menjadi lebih mudah diasup.

Sekitar tahun 1990-an, beberapa literatur menyebutkan, kurang dari 20 persen rumah tangga di negara berkembang yang mengonsumsi garam beriodium. Hal ini membuat 40 juta anak mengalami risiko gangguan belajar.

Saat ini jumlah rumah tangga yang mengonsumsi garam beriodium sudah meningkat sebesar 70 persen. Ini berarti, hampir 91 juta anak terlindung dari keterbelakangan mental.

Kerusakan Otak
Menurut Medical Journal of Australia 1999, iodium merupakan zat gizi esensial bagi tubuh supaya kelenjar tiroid berfungsi dengan baik. Kelenjar tiroid berfungsi membantu pertumbuhan dan metabolisme tubuh.

Iodium juga berkaitan dengan proses pertumbuhan neuron pada sel otak. Itu sebabnya, menurut Prof. DR. Made Astawan, MS, ahli teknologi pangan dan gizi IPB, kurangnya iodium pada masa kehamilan dan awal masa kehidupan anak, akan menurunkan jumlah sel neuron. Ini berarti akan menyebabkan kerusakan otak anak yang sebenarnya bisa dicegah.

Menurut WHO, 2002, setiap tahun diperkirakan sekitar 100 ribu anak lahir dengan kerusakan otak yang tidak bisa pulih. Penyebabnya, menurut International Council for Control of Iodine Deficiency Disorders, sang ibu kekurangan iodium selama hamil.

Bayi yang dilahirkan dari ibu yang kekurangan iodium bisa menderita kretin (cebol), tuli, kerdil, dan kecacatan bicara. Selain itu, juga meningkatkan kemungkinan kematian janin, keguguran, serta kematian saat bayi dilahirkan. Kurang iodium juga menjadi penyebab utama keterbelakangan (retardasi) mental pada anak-anak di seluruh penjuru dunia. Anak pun bisa apatis.

Sejauh ini, masyarakat awam lebih mengetahui seseorang mengalami kekurangan iodium dengan timbulnya gondok, yang ditandai oleh pembesaran kelenjar gondok. Pembesaran ini merupakan salah satu cara untuk mengambil iodium yang ada dalam darah.

Menurunkan IQ

Banyak orang kurang memahami bahwa kekurangan iodium, terlebih bagi anak, berpotensi menurunkan tingkat intelektual hingga 10-15 poin! Sebagai gambaran, orang yang tinggal pada komunitas dengan kekurangan iodium secara endemik menunjukkan nilai IQ lebih rendah 13,5 poin daripada orang dari komunitas sama dengan ketersediaan iodium yang adekuat.

Sebuah penelitian pernah dilakukan di Subang, Jawa Barat, untuk menilai efek dari suplementasi iodium terhadap kemungkinan kematian bayi. Penelitian dilakukan oleh Cobra C., Muhilal, Rusmil K., Rustama D., Djatnika, Suwandi S.S., terhadap sekitar 617 bayi.

Bayi-bayi tersebut diberi plasebo atau suplemen minyak beriodium (100 mg) pada usia 6 minggu dan terus diikuti hingga berusia 6 bulan. Hasilnya, kelangsungan hidup bayi dalam penelitian itu tampak membaik.

Sekitar 72 persen terjadi pengurangan risiko kematian selama 2 bulan pertama. Juga terjadi perlambatan kematian di antara bayi yang meninggal pada kelompok bayi yang diberi suplementasi minyak beriodium dibandingkan dengan kelompok plasebo.

Hasil penelitian tersebut muncul dalam Journal Nutrition, April 1997. Para peneliti menyatakan bahwa suplementasi minyak beriodium pada bayi bisa mengurangi kemungkinan kematian pada populasi bayi yang berisiko kekurangan iodium.

Makanan Laut

Selain suplementasi, iodium sebenarnya mudah dijumpai pada makanan laut. Iodium dijumpai pada air laut, sehingga setiap jenis makanan laut kaya akan elemen mineral ini.

Namun, garam laut bukan merupakan sumber iodium yang baik. Garam beriodiumlah yang menyediakan iodium dalam jumlah cukup. Dalam satu sendok teh garam beriodium terkandung sekitar 150 mkg iodium.

Beberapa jenis sayuran juga memiliki kandungan iodium yang baik. Terutama sayuran yang ditanam pada tanah yang kaya akan iodium atau tumbuh di tepi pantai. Rumput laut menghimpun iodium dari air laut, sehingga menjadi sumber makanan yang kaya akan mineral ini.

Secara umum, rumput laut dan makanan laut merupakan sumber iodium yang baik. Makanan laut yang menjadi sumber iodium di antaranya berbagai jenis ikan, cumi, udang, dan kerang. Rata-rata kandungan iodium pada tumbuhan laut berkisar 0,7-4,5 g/kg.

“Kandungan iodium pada rumput laut bisa mencapai 2.400-155 ribu kali lebih banyak dibandingkan dengan sayuran yang tumbuh di daratan,” ujar Prof. Made. Warga Jepang banyak mengonsumsi rumput laut, sehingga jarang yang mengidap penyakit gondok.

Telur, daging, susu, dan sereal juga mengandung iodium, walau dalam jumlah kecil. Sekitar 100 gram sayuran, daging merah, atau telur mengandung 25 mkg iodium dan pada 100 gram produk susu, roti, maupun sereal terkandung 10 mkg iodium.

Untuk anak yang melakukan diet rendah garam sebaiknya mempertimbangkan konsumsi makanan laut setiap minggunya. Hal ini semata-mata untuk memastikan kadar iodium yang cukup bagi tubuhnya, pun pada wanita hamil.

Saat anak tidak cukup mendapatkan beragam diet berupa buah, sayur, atau makanan sumber hewani yang mengandung mikronutrien dalam jumlah besar, kekurangan zat gizi tidak bisa dielakkan lagi.

Berapa Kebutuhannya?

Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan asupan iodium harian:
- 50 mkg untuk bayi usia 0-12 bulan
- 90 mkg untuk anak usia 2-6 tahun
- 120 mkg untuk anak usia sekolah (7-12 tahun)
- 150 mkg untuk orang dewasa (usia di atas 12 tahun)
- 200 mkg untuk wanita hamil dan menyusui

Jangan remehkan dehidrasi (kekurangan air tubuh),

JANGAN remehkan dehidrasi (kekurangan air tubuh), karena bisa meningkatkan risiko timbulnya penyakit berat. Celakanya,menurut data sekitar separuh orang dewasa dan remaja mengalami dehidrasi ringan.

Minum air sering terlupakan dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Padahal, pangan tidak hanya meliputi makanan, tetapi juga minuman.Air merupakan zat gizi esensial bagi kehidupan untuk hidup sehat dan aktif. Namun, praktiknya penyampaian pesan atau sosialisasi gizi seimbang untuk hidup sehat dan aktif, pesan minumlah air yang aman dan cukup jumlahnya setiap hari sering terabaikan.

Para dokter dan ahli gizi terkadang terlupa atau tidak menyampaikan pentingnya kecukupan air kepada klien atau pasiennya. Lalu, berapa jumlah kecukupan air dalam tubuh setiap harinya? Menurut Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PP-PDGMI) dr. Rachmi Untoro MPH,1 ml air/kkal kebutuhan energi bagi orang dewasa di bawah kondisi rata-rata kebutuhan energi dan lingkungan.

Hal itu sesuai rekomendasi National Research Council Amerika Serikat.Di Indonesia sendiri, sejak 2004, melalui forum Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG), para ahli gizi telah menetapkan anjuran kebutuhan air bagi setiap golongan umur dan jenis kelamin, seperti halnya kebutuhan akan karbohidrat, protein, lemak,vitamin,dan mineral.

”Air yang seharinya dibutuhkan sampai dua liter sebenarnya sudah memenuhi persyaratan sebagai zat gizi karena merupakan ikatan kimia yang dibutuhkan tubuh untuk melakukan fungsinya, terutama untuk mengatur fungsi kebutuhan,” ujarnya dalam simposium PP-PDGMI bertajuk ”Hydration and Health” di Hotel Sahid,Jakarta,Minggu (21/3). Menurut dia,air merupakan zat gizi penting bagi tubuh karena hampir semua proses metabolisme dan sistem dalam tubuh membutuhkan air.

Kekurangan asupan air dalam tubuh dapat menimbulkan masalah negatif terhadap kesehatan. Salah satu masalah yang sering timbul adalah dehidrasi, yaitu kondisi di mana air di dalam tubuh tidak mencukupi untuk melakukan fungsi kerja tubuh secara normal. Dehidrasi, terang Rachmi, terbagi atas dua kategori.

Pertama,kategori ringan-sedang yang ditandai dengan mulut kering dan lengket, mengantuk dan lelah,haus,volume urine sedikit, air mata kurang/- kering, otot lemah, sakit kepala serta pusing/silau jika melihat sinar. Sedangkan kategori berat ditandai dengan haus berat, sangat mengantuk dan kebingungan, tidak berkeringat, urine sedikit dan berwarna kuning gelap atau bahkan tidak ada, mata cekung, menggigil dan kulit kering, elastisitas hilang, tekanan darah rendah, nadi cepat, panasn dan kesadaran menurun.

”Saat ini di dunia sedang menghadapi masalah penyakit dehidrasi ringan yang kronik. Hal ini dapat menyebabkan energi tubuh terkuras dan kelelahan,”cetusnya. Selain disebabkan kurang minum, tutur Rachmi, kondisi ini juga terjadi akibat adanya gangguan pada mekanisme rasa haus, kurang menyukai rasa air minum, kebiasaan mengonsumsi kafein dan alkohol,kurangnya partisipasi dalam latihan fisik dan kondisi lingkungan seperti WC yang jorok.

Rachmi mengatakan, upaya pencegahan dehidrasi ringan dapat dilakukan dengan cara yang praktis,yaitu menggunakan grafik warna untuk pemeriksaan urine sendiri atau disingkat PURI. Semua jenis urine dapat digunakan asal bukan urine pagi saat bangun tidur. Yang paling bagus adalah menggunakan ”mid-stream urine” yaitu urine yang keluar di pertengahan saat kita berkemih.

Urine ini ditampung secukupnya di tempat yang bersih dan berwarna putih/bening, kemudian kita bandingkan warna urine tersebut dengan grafik warna di bawah sinar lampu neon putih atau sinar matahari. ”Jangan lupa bahwa warna urine juga dipengaruhi obatobatan ataupun diet tertentu.Dan satu lagi, jangan memeriksa urine di bawah sinar lampu berwarna kuning atau warna lainnya karena bisa membuat pemeriksaan menjadi bias,”terangnya.

Ahli gizi dan pangan dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Ir Hardinsyah MS mengungkapkan, sekitar separuh orang dewasa dan remaja mengalami dehidrasi ringan (kekurangan air tubuh pada tingkat ringan.Selain itu,kejadian dehidrasi ringan pada remaja ternyata lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Kejadian dehidrasi ringan juga banyak terjadi pada daerah dataran rendah yang panas dibanding dataran tinggi yang sejuk.

Menurut dia, kekurangan air tubuh dapat menyebabkan sejumlah masalah. Jika kekurangan 1% menimbulkan rasa haus dan gangguan mood. Kekurangan air tubuh 2–3% meningkatkan suhu tubuh, rasa haus, dan gangguan stamina. Sedangkan 4% kekurangan air tubuh dapat menurunkan kemampuan baik 25% dan bisa pingsan bila kadar air tubuh berkurang sampai 7%.

”Bahkan, kehilangan asupan cairan dapat menyebabkan batu ginjal, infeksi saluran kencing, kanker usus besar dan saluran kencing, konstipasi, obesitas pada anak dan remaja, hipertensi dan penyakit berat lainnya,’ kata Hardinsyah. Health Benefit Group Manager Hydration and Replenishment Plateform Danone Research, Pa-lasiseau, Prancis, Laurent Bellego PhD menambahkan, air merupakan zat gizi dan komponen tubuh yang utama.

Rekomendasi asupan antarnegara,asosiasi dan lembaga berwenang berbeda-beda. Anjuran kebutuhan (RDI) air yang tepat bagi setiap negara dapat ditentukan berdasarkan survei nasional. ”Kita harus membuka sudut pandang kita untuk meningkatkan asupan cairan pada orang yang minum sedikit dan membantu mereka untuk memenuhi RDI air mereka. Ditambah upaya untuk menggantikan air minum berkalori dengan air putih agar kebutuhan cairan setiap orang dapat terpenuhi dengan cara yang lebih sehat,’ ujarnya. (rendra hanggara)

Bincang-Bincang Dengan Kepala Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan

Sesuai Peraturan Menkes No. 1575/Menkes/Per/XI/2005, pelaksana tugas di bidang sarana, prasarana dan peralatan kesehatan adalah Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan (PSPPK). PSPPK merupakan salah satu dari tujuh Pusat yang sehari-hari bertanggung jawab kepada Sekretaris Jenderal dan bertanggung jawab langsung kepada Menteri Kesehatan. Dalam menjalankan tugasnya, PSPPK mempunyai lima fungsi diantaranya adalah penyiapan koordinasi dan pelaksanaan penyusunan standar teknis, norma, pedoman, kriteria dan prosedur di bidang sarana, prasarana dan peralatan kesehatan.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, memiliki unit pelaksana teknis (UPT) yaitu Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK). Untuk mengetahui apa dan bagaimana PSPPK, Mediakom telah melakukan wawancara dengan Ir. Tugijono, M.Kes., Kepala Pusat Sarana Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Berikut petikannya.


Pentingnya pengujian dan kalibrasi alkes.

Sesuai Undang-undang No. 23 tahun 1992 tentang Kesehatan disebutkan, pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan diselenggarakan untuk melindungi masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan atau keamanan dan/ atau keselamatan. Di dunia kedokteran, alat kesehatan mempunyai fungsi diagnostik dan terapi. Tetapi selain mempunyai aspek manfaat, juga terdapat aspek risiko. Karena itu untuk menekan risiko penggunaan dan melindungi masyarakat dari bahaya penggunaan alat kesehatan, perlu dilakukan pengujian dan kalibrasi. Kewajiban Sarana Pelayanan Kesehatan untuk melakukan pengujian dan kalibrasi peralatan kesehatannya sesuai dengan Kepmenkes No. 363/MENKES/Per/XI/1999. Adapun Institusi Penguji Alat Kesehatan adalah Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan, hal ini sesuai Keputusan Menteri Kesehatan No. 530/MENKES/Per/IV/2007. BPFK merupakan unit pelaksana teknis (UPT) dari Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan. Salah satu BPFK yakni BPFK Surabaya telah mendapat penghargaan Piala Citra Pelayanan Prima dari Presiden RI.

Perkembangan Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan.

Berawal dari Bagian Umum dan Teknik Penyehatan, Biro Logistik dan Keuangan, Sekretariat Jenderal sampai dengan tahun 1977 selanjutnya berkembang menjadi Direktorat. Sebagai Direktorat Instalasi Kesehatan dibawah Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan membawahi BTKL dan BPFK. Dalam perjalanannya, organisasi di lingkungan Departemen Kesehatan, Direktorat Instalasi Medik membawahi UPT-BPFK, sedangkan BTKL menjadi UPT Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Terakhir sebagai Direktorat dengan nama Direktorat Sarana dan Peralatan Medik, sesuai Keputusan Menkes No. 1277/Menkes/SK/XI/2001 dibawah Direktorat Jenderal Pelayanan Medik. Sesuai dengan Permenkes No. 1575/Menkes/Per/XI/2005 menjadi Pusat Sarana, Prasarana dan Peralatan Kesehatan dibawah Sekretariat Jenderal, yang mempunyai UPT Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan.

SEHAT TAPI HEMAT BERSAMA OBAT GENERIK

Komponen biaya terbesar dalam pelayanan kesehatan adalah obat yang dapat mencapai hingga 70% dari total biaya pelayanan kesehatan. Karena itu intervensi penggunaan obat merupakan upaya yang strategis dalam pengendalian pembiayaan pelayanan kesehatan.

Untuk memberikan alternatif obat kepada masyarakat dengan kualitas terjamin dan harga terjangkau serta ketersediaan obat yang cukup, pemerintah telah meluncurkan Obat Generik Berlogo (OGB) sejak tahun 1989.

“Tren pasar obat nasional menunjukkan perkembangan positif selama kurun waktu lima tahun terakhir yaitu sebesar Rp.23,590 trilyun di tahun 2005, menjadi Rp.32,938 trilyun di tahun 2009. Sedangkan pasar obat generik, menunjukkan tren penurunan 10,0% dari Rp.2,525 trilyun menjadi Rp.2,372 trilyun atau 7,2% dari pasar nasional. Penurunan posisi obat generik terhadap pasar obat nasional, menunjukkan telah terjadi pembiayaan obat yang tidak efisien”, kata Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH saat meresmikan program School to School, Sehat tapi Hemat Bersama Obat Generik Indofarma di Gelanggang Olahraga Tangerang, 16 Maret 2010.

Menurut Menkes, salah satu penyebab masih rendahnya pangsa pasar obat generik berlogo (OGB) ini adalah masih kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai OGB sehingga opini yang berkembang OGB merupakan obat kelas dua, kualitasnya tidak terjamin dan lain-lain. Padahal aturan untuk memproduksi dan memasarkan produk OGB cukup ketat, diantaranya industri farmasi harus memiliki sertifikat Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dan melalui kontrol yang ketat dari Badan Pengawas Obat & Makanan (BPOM)